Gunung Marmer Fatumnasi

Kabupaten TTS memiliki taman wisata fatumnasi yang sangat indah dan masih sangat alami dan asri. Fatumnasi menyajikan panorama alam pegunungan yang sangat mempesona dimana udaranya yang sangat sejuk dan sangat nyaman. Selain panorama pegunungan yang sangat mempesona wisata juga menyajikan wisata tumbuhan yang sangat langka yaitu Bonsai alam yang berumur sudah ratusan tahun yang tumbuh secara alami yang batang dan dahannya yang berlumut yang menyajikan pesona yang sangat indah untuk diabadikan.
Dan juga sederatan gunung batu yang mempesona dan sangat indah seperti Fatu Kolen, Benteng Dua Putri, Fatu Nausus dan Fatu Taapan. Taman wisata Fatumnasi berjarak 35 km kearah Utara dari kota Soe dan dapat ditempuh ± 40 s/d 50 menit dengan menggunakan angkutan umum, rental mobil maupun motor ojek.

Pantai Kolbano

Pantai kolbano merupakan salah satu objek wisata pantai yang cukup indah yang di punyai kabupaten TTS maupun provinsi NTT. Dimana pantai ini masih sangat asri dan alami dan menyajikan pesona pantai yang sangat indah dan pantai ini terkenal dengan kerikil seribu warna dimana banyak wisatawan yang datang berkunjung untuk mengambil kerikil berwarna untuk dipakai menghiasi rumah maupun taman. Saat ini kerikil berwarna ini sudah sangat terkenal dan sudah dieksploitasi dan sudah dikirim keberbagai daerah.
Tetapi banyak wisatawan yang tidak bisa menikmati atau mandi di pantai kolbano disebabkan arus atau gelombang yang cukup besar dan kedalamannya yang cukup curam. Dipantai kolbano juga terdapat sebuah bongkahan batu besar berbentuk seperti kepala singa atau kepala manusia yang disebut Fatu Un dan menjadi keunikan tersendiri. Pantai Kolbano berjarak ± 80 km arah selatan Kota Soe dan dapat ditempuh ± 1,5 jam s/d 2 jam dengan menggunakan angkutan umum, rental mobil maupun motor ojek.

Pantai Oetune

Pantai ini masih sangat asri dan alami dan pantai landai berpasir putih sepanjang puluhan km, dengan gulungan ombak 4-7 gulungan yang cocok untuk selancar dan saat ini sudah banyak wisatawan baik dari Kabupaten TTS maupun dari luar. Dan pada akhir pekan maupun liburan banyak dikunjungi wisatawan atau sekedar rekreasi keluarga saat ini dipantai Oetune sudah dibangun fasilitas-fasilitas pendukung seperti lopo-lopo atau pondok berteduh. Pantai Oetune berjarak 70 km arah Selatan Kota Soe dan dapat ditempuh ± 1,5 jam dengan menggunakan mobil rental, angkutan pedesaan maupun motor ojek.

Pegunungan Fatunausus dan Pusat Kerajaan Mollo

Batu besar berbentuk candi, merupakan tempat persembahyangan bagi masyarakat suku Mollo, yang berdomisili di sekitar batu tersebut. Dari ketinggian 1.500 m di atas permukaan laut, anda disuguhkan panorama alam pegunungan dan alam lembah yang sangat indah, dengan tiupan angin kencang membawa kabut seakan membawa anda merasakan suasana seperti di Eropa, sehingga seorang wisatawan perna bersaksi bahwa untuk merasakan suasana Eropa anda tidak perlu jauh-jauh ke Belanda atau ke Jerman, datanglah ke Fatunausus saja.
Dalam perjalanan ke Fatunausus anda disuguhkan pula dengan pemandangan hutan yang ditumbuhi dengan tanaman eucaliptus alba dan eucaliptus europhila, dan kawanan hewan berupa sapi dan kuda berlari manja di padang, menambah suasana yang sangat atraktif.

Pusat Kerajaan Mollo

Dalam perjalanan ke Fatunausus, anda bisa singgah sebentar di Sonaf Aijaobaki, pusat kerajaan Mollo. Di tempat ini, anda dapat menyaksikan bekas peninggalan kerajaan Mollo dengan raja yang berkuasa pada saat itu yaitu Raja Oematan, Istana raja dan berbagai pernak-pernik peninggalan kerajaan. Sambil menikmati hidangan ringan, anda disuguhkan pula dengan atraksi seni budaya berupa Tarian Giring-giring (Sbo Bano)
Pentas Tarian Giring-giring (Sbo Bano)
Tarian ini adalah sejenis tarian perang. Hal yang membedakan tarian ini dengan tarian perang Ma,ekat, adalah tarian sbo bano menggunakan aksesoris berupa giring-giring (bano) yang diikat pada kaki, sehingga pergerakan para penari diiringi pula dengan bunyi giring-giring tersebut. Sbo Bano merupakan tarian khas masyarakat bekas swapraja Mollo.

Upacara Adat Poit Pah
Upacara adat syukuran panen ini, biasanya dilakukan oleh orang Timor dalam memasuki musim panen, bersyukur kepada Allah sang pemberi rejeki atas hasil panenan yang melimpah sembari memohon berkat atas tanaman untuk musim tanam mendatang. Prosesi upacara adat ini, diawali dengan doa yang dilakukan oleh tetuah yang telah ditunjuk (Ana,am Nes).Korban-korban berupa ternak sapi dan babi serta hulu hasil yang telah disiapkan didoakan dan kemudian dipersembahkan pada mesbah yang terbuat dari batu besar. Darah sembelihan kemudian diperciki pada hulu hasil yang ada.

Perkampungan Adat dan Benteng None

Salah satu daya tarik adalah perkampungan adat masyarakat adat None, yang dihuni oleh marga Tauho. Di tempat ini anda bisa menyaksikan Rumah-rumah adat orang Timor berupa Ume Kbubu (Rumah Bulat) dan Lopo. Dalam filosofi orang Timor, Rumah Adat Ume Kbubu melambangkan wanita orang Timor yang santun, bersahaja, merenda dan tertutup auratnya sebagaimana dilambangkan oleh ume kbubu, dimana atapnya dari bubungan sampai ke tanah, dan memiliki satu pintu saja, sehingga orang keluar masuk harus menunduk. Sementara Lopo, bagi orang Timor melambangkan laki-laki, dimana agak terbuka, kokoh, dan sebagai tempat untuk pertemuan keluarga, dimana selalu dipimpin oleh bapak selaku kepala keluarga.
Terdapat Benteng Pertahanan Masyarakat Adat None pada jaman dahulu melawan musuh dan penjajah. Benteng tersebut terbuat dari batu-batu alam dan sejenis tanaman berduri (Naus) yang ditanam berjejer sepanjang 1 km, sementara pada sisi yang lain, terdapat jurang yang sangat terjal sehingga musuh sangat sulit sampai ke perkampungan mereka.

Tarian Perang (Ma’ekat)
Dalam tarian ini disuguhkan ketangkasan, kepiawaian, keberanian dan keheroikan para panglima dan prajurit perang (meo) dalam memerangi musuh di medan laga, yang kemudian memenangkan pertempuran dan melanjutkannya dengan pesta pora kemenangan lewat Tarian Bonet. Sejenis tarian gembira yang mengambil formasi bulatan sambil bergerak seiring jarum jam dengan panduan lantunan syair-syair pantun yang disebut ”Tne”.

Upacara Adat Poit Pah
Upacara adat syukuran panen ini, biasanya dilakukan oleh orang Timor dalam memasuki musim panen, bersyukur kepada Allah sang pemberi rejeki atas hasil panenan yang melimpah sembari memohon berkat atas tanaman untuk musim tanam mendatang. Prosesi upacara adat ini, diawali dengan doa yang dilakukan oleh tetuah yang telah ditunjuk (Ana,am Nes).Korban-korban berupa ternak sapi dan babi serta hulu hasil yang telah disiapkan didoakan dan kemudian dipersembahkan pada mesbah yang ada di bawah sebatang pohon beringin besar. Darah sembelihan kemudian diperciki pada hulu hasil yang ada.

Upacara Adat Ote Naus

Upacara adat yang satu ini biasa dilakukan oleh masyarakat adat Timor untuk mendeteksi lawan / musuh sebelum melakukan perlawanan. Sarana yang digunakan adalah sebilah tombak yang diarahkan ke tiang pancongan kemudian mendepa dan apabila depaan tangan mencapai tiang pancongan, maka itu menandakan ada keberuntungan, dan sebaliknya manakala tangan tidak mencapai tiang pancongan, menandakan ketidakberuntungan, dan itu berarti masih ada sejumlah kendala yang perlu dibenahi dengan cara naketi.
Sonaf Aijaobaki

Sonaf Aijaobaki merupakan pusat Kerajaan Mollo dan sampai saat ini istana dan peninggalannya masih ada dan dilestarikan. Istana ajaobaki ini menjadi tempat tinggal raja-raja Mollo dan keturunnanya. Saat ini istana Ajaobaki menjadi daya tarik wisata sejarah yang luar biasa. Didalam istana ini terdapat benda – benda peninggalan raja Mollo yang masih disimpan dan dilestarikan. Saat ini istana Ajaobaki banyak dikunjungi wisatawan baik dari Kabupaten TTS maupun dari luar yang ingin mengetahui cerita sejarah kerajaan Mollo. Ajaobaki berjarak 22 km arah utara Kota Soe dan dapat ditempuh ± 30 menit dengan menggunakan mobil rental, angkutan pedesaan maupun motor ojek.

Suku boti merupakan salah satu suku di Kabupaten TTS yang masih memegang teguh tradisi nenek moyangnya. Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman.
Kehidupan sehari-hari suku boti masih sangat tradisional dan jauh dari peradaban kehidupan sekarang yang serba modern. Tradisi dan kehidupan suku boti inilah yang membuat daya tarik wisata yang bernilai luar biasa dimana sering di kunjungi baik dari wisatawan lokal dan wisatawan luar negeri maupun dari media cetak atau media elektronik yang ingin meliput kehidupan dan tradisi budaya yang masih tradisional yang turun temurun dari nenek moyangnya dan kepercayaan asli orang timor yaitu animisme. Tempat suku boti berjarak ± 40 km dari kota Soe dan dapat ditempuh ± 50 s/d 60 menit dengan menggunakan rental mobil, angkutan pedesaan maupun motor ojek.
Berjalannya perputaran roda waktu seakan tidak menyentuh kerajaan Boti. Warga Boti hingga kini masih hidup dalam kesahajaan mereka dan tetap memegang teguh pada tradisi leluhur mereka. Kehidupan warga Boti hingga kini masih bergantung pada kerasnya alam daratan Pulau Timor.
Raja Boti, Usif Nama Benu, baru saja menggantikan ayahnya, Usif Nune Benu yang wafat pada bulan Maret 2005. Usif adalah sebutan atau gelar yang diberikan Suku Boti terhadap raja mereka yang juga merupakan pemimpin adat dan spiritual warga Boti. Sejak meninggalnya Usif Nune Benu, orang Boti menjalani masa berkabung, karena itu selama tiga tahun lamanya orang Boti tidak mengadakan pesta-pesta adat. Menurut sang Raja baru, Usif Nama Benu, biasanya mereka mengadakan kegiatan pesta adat seusai panen namun selama masa berkabung ini ditiadakan untuk menghormati sang ayah Usif Nune Benu.
Masyarakat Suku Boti berkabung selama 3 tahun setelah wafatnya Raja Boti Usif Nune Benu pada bulan Maret 2005. Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebut Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia.
Menurut falsafah hidup orang Boti manusia akan selamat dan sejahtera bila merawat dan melestarikan lingkungan hidup. Dalam kehidupan keseharian mereka segala sesuatu mereka dapatkan dari alam seperti halnya keperluan sandang yang dibuat dari benang kapas dan pewarna yang mereka dapatkan dari tumbuhan di lingkungan sekitar mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari ada pembagian tugas yang jelas antara kaum lelaki dan perempuan. Para lelaki bertugas mengurusi permasalahan di luar rumah, seperti berkebun, dan berburu. Sementara urusan rumah tangga, diserahkan kepada kaum perempuan. Meskipun pembagian peran ini biasa dijumpai dalam sistem kekerabatan, ada satu hal yang membuat warga Boti agak berbeda, mereka menganut monogami atau hanya beristri satu. Seorang lelaki Boti yang sudah menikah, dilarang memotong rambutnya. Sehingga bila rambut mereka semakin panjang, mereka akan menggelungnya seperti konde.
Bila kepercayaan dan aturan adat Boti dilanggar, maka akan dikenakan sanksi, tidak akan diakui sebagai penganut kepercayaan Halaika, berarti harus keluar dari komunitas suku Boti, sebagaimana yang terjadi pada putra sulung Laka Benu, kakak dari Raja Usif Nama Benu. Laka Benu yang seharusnya menjadi putra mahkota, memeluk agama Kristen sehingga ia harus meninggalkan komunitas Boti.
Menurut Molo Benu, yang juga merupakan adik dari Usif Nama Benu, untuk dapat terus menjaga dan menjalankan adat dan kepercayaan mereka, anak-anak dalam satu keluarga dibagi dua, separuh dari anak-anak mereka diperbolehkan bersekolah sementara yang lainnya tidak diperkenankan bersekolah dengan tujuan agar dapat teguh memegang adat tradisi mereka. Aturan pendidikan bagi anak-anak Boti bertujuan agar tercipta keseimbangan antara kehidupan masa sekarang dengan kehidupan berdasarkan adat dan tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur mereka.
Banyak kaum tua Boti yang tidak lancar bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia termasuk sang raja. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah Dawan. Namun demikian bahasa bukan halangan bagi warga Boti untuk menyambut tamu-tamu mereka yang datang ke desa mereka. Keramahan dan senyum hangat mereka rasanya sudah lebih dari cukup sebagai media komunikasi, simbol keterbukaan mereka terhadap para pengunjung yang ingin merasakan kedamaian dan kesahajaan di Desa Boti.




Statistik Pengunjung

  • User sedang online: 0
  • Pengunjung hari ini: 9
  • Pengunjung kemarin: 16
  • Pengunjung Minggu ini: 4.759
  • Pengunjung Bulan ini: 13.330
  • Pengunjung Tahun ini: 491.588
  • Jumlah Pengunjung: 520.940

Peta Kabupaten TTS